Pernah
Merasa Malu Berjalan dengan Orang Tua kita?
Kita sadari,
semakin kita tumbuh dewasa maka semakin tua usia orang tua kita.
![]() |
| -foto mbahku- |
Kalau aku
jujur pernah, ceritanya seperti ini. Waktu itu aku masih bekerja di salah satu
pabrik produksi sepatu, sekitar tahun 2014. Di saat liburan ada event/lomba
pabrik yang disitu bebas mau ngajakin siapa saja? Aku putuskan untuk mengajak
keluarga. Karena apa ya, kalau sudah bekerja begitu rasanya jarak dengan orang
tua mulai merenggang karena kesibukan aku yang kerja dari pagi-pagi buta
berangkat, pulang juga semua anggota keluarga sudah tidur.
Aku ajak ibu
dan adikku. Entah tidak tahu kenapa ya, yang aku tahu ibukku dulu itu tidak
suka pergi kesana kemari. Semenjak lahirnya adikku yang paling kecil ibukku
suka diajak kemana-mana. Kalau masih muda dulu sih ibuku kalau diajak pergi itu
malas, capeklah, apalah, tapi setelah kelahiran adikku akhirnya ibuku suka
pergi kemana-mana. Ya Alhamdulillah lah. Oh ya kembali ke cerita, aku ajak
ibuku dan adik ke pabrik. Soalnya aku pengen nyenengin ibu adikku, kan pastinya
kalau ada event itu seru terus banyak stand makanan. Pagi-pagi buta, suasananya
masih sepi, kabutnya masih sangat tebal, dingin tapi seru. Sesampainya di
pabrik aku bertemu temen-temen dan siap-siap mengikuti lomba sementara ibuku
aku tinggal dulu.
![]() |
| -foto ibuku- |
Pasti kan ada
kayak gitunya? Kayak bisa dibilang anak mama. Yaudah terserah aku.
Pernah
beberapa waktu lalu, ibuku datang jenguk aku. Kan sama adikku, dia cerewet
minta pulang terus, nangis terus. Aku ajakin jalan ibuku biar adikku diam.
Waktu di toko *** adikku minta sesuatu dan itu mahal, maklumlah aku dari
keluarga yang sederhana. Segitu harganya mah mahal banget. Apalagi kasihan
ibuku masak hanya itu saja uang ludes. Akhirnya gak jadi keluar deh. Aku sempat
malu-malu tapi ya kasihan sama ibu dengan kondisi adik yang suka menangis itu.
Keesokan
harinya temanku bilang seperti ini, “san aku kemaren malem lihat kamu, sama
mbah mbah. Gak tahu mbah mbah atau ibu-ibu.” Ya Allah segitunya, padahal kan
ibuku masak ya dibilang mbah-mbah. Emang penampilan ibuku kayak mbah-mbah,
kuno, atau gimana gitu ya. Maklumlah ibuku kan orang desa, yah seusia
krisdayantilah 45,an. Masak sudah di bilang mbah-mbah. Sontak aku kasihan sama
ibuku, ternyata ibuku semakin aku dewasa ibuku juga semakin tua. Aku pengen
nangis deh.
Kadang memang
aku pernah malu kalau ibuku berperilaku seperti orang kuno, ndeso. Namanya juga
orang desa. Tapi aku harus mulai memaklumi. Karena ibu itu satu-satunya orang
yang paling ngerti hidup kita apapun kondisi kita jadi jangan pernah lagi
merasa malu karena keanehan ibu kita. Dia pelita dalam hidup. Mungkin ibu-ibu
mereka modis, tapi tak usah pedulikan. Yang terpenting ibu kita selalu ikhlas
punya anak kayak kita. ehehe
Terus ada lagi
di masa lampau, persis waktu setelah ibuku selesai melahirkan adikku yang
paling kecil. Wajahnya ibuku berubah begitu mengeriput, aku kasihan, aku pengen
nangis kalau melihatnya. Waktu itu ada pembuatan bpj* , jadi harus difoto. Aku
melihat ibuku antara malu dan kasihan saat difoto. Seperti orang tua padahal
kan masih 40,an. Apakah ini efek dari habis melahirkan atau emang wajah ibuku
habis dihinggapi tomcat. Waktu itu hewan tomcat memang mewabah dan saat
dihinggapi serangga itu bisa meninggalkan bekas-bekas seperti luka merah di
kulit. Tapi alhamdulillah, beberapa bulan kemudian wajah ibuku kembali normal.
Selanjutnya
bapakku juga ndak modis, terkadang berperilaku aneh dan kadang aku merasa malu.
Tapi untungnya malunya cuma sekali itu doang. Eh gak tau deng! hihi.
![]() |
| -foto bapakku- |
Bayangkan kamu
nanti menjadi seorang ibu/ bapak kemudian anakmu malu karena sikap anehmu pasti
sakit rasanya. So, mulai belajar untuk mencintai ibu dan bapak sepenuh hati,
anggap dan sadarilah bahwa bapak/ibu kalian adalah hadiah terbesar yang diberi
Tuhan untuk kalian dan orang-orang unik, spesial dan terbaik yang dihadiahkan
kepada kita sebagai penghibur ketika lara, penyemangat kala jatuh dan penolong
kala kita sendiri.
Love
our parents so much!!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar