Sabtu, 03 Oktober 2015

Orang Tua, Malaikat hidup

Pernah Merasa Malu Berjalan dengan Orang Tua kita?

Kita sadari, semakin kita tumbuh dewasa maka semakin tua usia orang tua kita.
-foto mbahku-
Saat kita sudah mulai dewasa, pernah misalnya kita bersama teman kita sementara orang tua juga bersama kita. Mungkin terbersit sedikit di dalam hati kita merasa malu. Bisa jadi teman kita terkadang juga mengejek kita. Wah, sudah dewasa masih dibuntut i orang tua? Pernah tidak dalam hidup kalian seperti hal tersebut?
Kalau aku jujur pernah, ceritanya seperti ini. Waktu itu aku masih bekerja di salah satu pabrik produksi sepatu, sekitar tahun 2014. Di saat liburan ada event/lomba pabrik yang disitu bebas mau ngajakin siapa saja? Aku putuskan untuk mengajak keluarga. Karena apa ya, kalau sudah bekerja begitu rasanya jarak dengan orang tua mulai merenggang karena kesibukan aku yang kerja dari pagi-pagi buta berangkat, pulang juga semua anggota keluarga sudah tidur.
Aku ajak ibu dan adikku. Entah tidak tahu kenapa ya, yang aku tahu ibukku dulu itu tidak suka pergi kesana kemari. Semenjak lahirnya adikku yang paling kecil ibukku suka diajak kemana-mana. Kalau masih muda dulu sih ibuku kalau diajak pergi itu malas, capeklah, apalah, tapi setelah kelahiran adikku akhirnya ibuku suka pergi kemana-mana. Ya Alhamdulillah lah. Oh ya kembali ke cerita, aku ajak ibuku dan adik ke pabrik. Soalnya aku pengen nyenengin ibu adikku, kan pastinya kalau ada event itu seru terus banyak stand makanan. Pagi-pagi buta, suasananya masih sepi, kabutnya masih sangat tebal, dingin tapi seru. Sesampainya di pabrik aku bertemu temen-temen dan siap-siap mengikuti lomba sementara ibuku aku tinggal dulu.
-foto ibuku-
Yah kan aku punya teman pabrik bukan dari seusiaku saja, pasti juga ada yang ibu rumah tangga, yang lebih tualah, lah mereka itu bilang ke aku. “wes gede kok ditutno mbokne ae(jawanya)” kalo bahasa Indonesia , “sudah besar kok diikutin ibunya terus”. Lah emangnya masalah begitu? Emang sama siapa kalau gak ibu? Pacar? Gak punya dan gak penting. Aku lebih seneng ngajakin ibuku sama adik aja, mereka keluargaku. Yah sekali-sekali ngajakin merekalah, nyenengin mereka, diajak jalan-jalan.
Pasti kan ada kayak gitunya? Kayak bisa dibilang anak mama. Yaudah terserah aku.
Pernah beberapa waktu lalu, ibuku datang jenguk aku. Kan sama adikku, dia cerewet minta pulang terus, nangis terus. Aku ajakin jalan ibuku biar adikku diam. Waktu di toko *** adikku minta sesuatu dan itu mahal, maklumlah aku dari keluarga yang sederhana. Segitu harganya mah mahal banget. Apalagi kasihan ibuku masak hanya itu saja uang ludes. Akhirnya gak jadi keluar deh. Aku sempat malu-malu tapi ya kasihan sama ibu dengan kondisi adik yang suka menangis itu.
Keesokan harinya temanku bilang seperti ini, “san aku kemaren malem lihat kamu, sama mbah mbah. Gak tahu mbah mbah atau ibu-ibu.” Ya Allah segitunya, padahal kan ibuku masak ya dibilang mbah-mbah. Emang penampilan ibuku kayak mbah-mbah, kuno, atau gimana gitu ya. Maklumlah ibuku kan orang desa, yah seusia krisdayantilah 45,an. Masak sudah di bilang mbah-mbah. Sontak aku kasihan sama ibuku, ternyata ibuku semakin aku dewasa ibuku juga semakin tua. Aku pengen nangis deh.
Kadang memang aku pernah malu kalau ibuku berperilaku seperti orang kuno, ndeso. Namanya juga orang desa. Tapi aku harus mulai memaklumi. Karena ibu itu satu-satunya orang yang paling ngerti hidup kita apapun kondisi kita jadi jangan pernah lagi merasa malu karena keanehan ibu kita. Dia pelita dalam hidup. Mungkin ibu-ibu mereka modis, tapi tak usah pedulikan. Yang terpenting ibu kita selalu ikhlas punya anak kayak kita. ehehe
Terus ada lagi di masa lampau, persis waktu setelah ibuku selesai melahirkan adikku yang paling kecil. Wajahnya ibuku berubah begitu mengeriput, aku kasihan, aku pengen nangis kalau melihatnya. Waktu itu ada pembuatan bpj* , jadi harus difoto. Aku melihat ibuku antara malu dan kasihan saat difoto. Seperti orang tua padahal kan masih 40,an. Apakah ini efek dari habis melahirkan atau emang wajah ibuku habis dihinggapi tomcat. Waktu itu hewan tomcat memang mewabah dan saat dihinggapi serangga itu bisa meninggalkan bekas-bekas seperti luka merah di kulit. Tapi alhamdulillah, beberapa bulan kemudian wajah ibuku kembali normal.
Selanjutnya bapakku juga ndak modis, terkadang berperilaku aneh dan kadang aku merasa malu. Tapi untungnya malunya cuma sekali itu doang. Eh gak tau deng! hihi.

-foto bapakku-
Saat anak merasa malu dengan ibubapaknya/orang tuanya seperti inilah yang dianggap miris. Kamu dibesarkan dengan susah payah tapi tak ada balas budinya, bertahun-tahun bersama orang tua masak hanya karena malu diledekin orang lain jadinya malu dengan sikap orang tua sendiri. Astagfirullah. Yuk, sama-sama perbaiki diri. Berusaha membuat bagaimana caranya membahagiakan orangtua meskipun sampai saat ini aku selalu menyusahkan beliau-beliau. Belum bisa membalas budi, suka menentang dan tidak bisa diatur kalau sudah berkeinginan.
Bayangkan kamu nanti menjadi seorang ibu/ bapak kemudian anakmu malu karena sikap anehmu pasti sakit rasanya. So, mulai belajar untuk mencintai ibu dan bapak sepenuh hati, anggap dan sadarilah bahwa bapak/ibu kalian adalah hadiah terbesar yang diberi Tuhan untuk kalian dan orang-orang unik, spesial dan terbaik yang dihadiahkan kepada kita sebagai penghibur ketika lara, penyemangat kala jatuh dan penolong kala kita sendiri.
Love our parents so much!! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar