Rabu, 14 November 2018

Teknik Lingkungan itu Tidak Mudah


       Bagaimana saya dulu akhirnya memilih program studi Teknik Lingkungan (TL) dilatar belakangi sejarah yang panjang. Dulu, di tahun 2015, berasal dari beragam alasan, akhirnya saya siap memutuskan untuk terjun di program studi ini. Memang tidak bisa dipastikan saya lolos atau tidaknya, namun kenyataannya saya lolos ketika mengikuti seleksi. Saya sempat berpikir “mungkin” TL mudah, karena saya hanya fokus pada kata lingkungannya dan artinya “mungkin” sebagian besar hanya berkecimpung di dunia biologi saja. Iya, saya salah besar karena ekspektasi saya tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Teknik lingkungan bisa terbilang rumit, tidak berbicara soal lingkungannya namun berbicara tentang tekniknya. Dimanapun itu program studi yang awal kata diawali dengan kata teknik pasti akan rumit. Kerumitan ini yang belum bisa saya terima. Saya temukan mata kuliah (matematika, fisika, kimia, biologi) secara merata dengan istilah berbeda dalam dunia keteknikan. Saya berpikir bahwa kuliah itu baha ajarnya akan lebih fokus, ternyata tidak demikian, semua aspek juga harus dipelajari. Ditambah lagi dengan tugas-tugas perencanaan yang harus bisa dikuasai oleh anak Teknik. Namun saya belum mampu menguasainya sampai saat ini.

     Saya sempat berpikir bahwa saya tidak cocok di Teknik Lingkungan. Rasa/chemistry saya terhadap program studi ini kurang. Namun bagaimanapun saya sudah menerjuninya dan saya harus tetap berjuang disini, meskipun dengan segala keterbatasan saya yang ada. Kembali ke beberapa alasan, apa saja sebenarnya yang membuat saya akhirnya mengambil program studi ini, antara lain:

1.       1Kakak kelas SMA, panggil saja Mas Sudib sukses di TL

Saya melihat kakak kelas saya yang mengambil program studi ini di kampus sebelah dan dia sukses berada di program studi ini. Saya dulu sempat keras kepala, saya pasti bisa seperti Mas Sudib. Saya pasti bisa berprestasi di sini. Saya berusaha meyakinkan mas saya yang juga adik kelas dari Mas Sudib bahwa saya benar-benar bisa. Kembali lagi ke realita, bahwa saya dan Mas Sudib seperti bumi dan langit. Mas Sudib memang seseorang yang benar-benar berprestasi ketika sekolah maupun kuliah. Kali ini saya terlalu berlebihan karena keras kepalanya saya untuk bisa seperti Mas Sudib. Kenyataan yang dijalani sekarang, saya belum bisa apa-apa. Tetap, saya harus terus berjuang sampai selesai meskipun belum berprestasi.

2.       2. Saya punya visi misi untuk lingkungan

Saya menyadari bahwa lingkungan ini semakin terancam keberadaannya. Tidak bisa dipungkiri lingkungan semakin mengalami kerusakan dan kitalah yang mampu memperbaikinya meskipun tidak sepenuhnya dapat menyembuhkannya dari berbagai macam pencemaran yang masuk di lingkungan. Ini tugas berat dan besar bagi seorang enviromentalist.

3.       3Saya mengambil program studi yang “mungkin” mudah

Seperti yang telah saya bilang diatas, ternyata TL itu tidak mudah. Kali ini saya salah berspekulasi. Namun saya harus mampu berjuang disini. Berjuang itu mudah namun mempertahankannya adalah kesulitan tersendiri. Namun saya tidak akan menyerah menghadapi kesulitan ini.

Mungkin dulu alasan saya seperti diatas untuk memberanikan mengambil TL, bagaimana pun ketika saya terjun di dunia tersebut, maka itu adalah jodoh saya. Meskipun TL sulit dijalani, saya percaya bahwa saya mempunyai peran besar untuk lingkungan ini. Ilmu yang saya dapatkan di bangku perkuliahan ini nantinya bisa bermanfaat untuk diri saya dan lingkungan di sekitar saya. Saya berharap demikian, biarkan saya saat ini bingung dengan peran apa yang saya ambil ke depan. Namun pasti, cepat atau lambat saya akan berperan dan mengaplikasikan ilmu saya di bangku perkuliahan ini secara benar dan memberikan manfaat untuk sekeliling saya.

1 komentar:

  1. Perhatikan lagi penggunaan "di" sebagai kata depan atau imbuhan itu berbeda. Pelajari kembali PUEBI.
    Penomoran juga itu dobel, bisa lebih teliti lagi ya!

    BalasHapus