Bagaimana saya
dulu akhirnya memilih program studi Teknik Lingkungan (TL) dilatar belakangi
sejarah yang panjang. Dulu, di tahun 2015, berasal dari beragam alasan,
akhirnya saya siap memutuskan untuk terjun di program studi ini. Memang tidak
bisa dipastikan saya lolos atau tidaknya, namun kenyataannya saya lolos ketika
mengikuti seleksi. Saya sempat berpikir “mungkin” TL mudah, karena saya hanya fokus
pada kata lingkungannya dan artinya “mungkin” sebagian besar hanya berkecimpung
di dunia biologi saja. Iya, saya salah besar karena ekspektasi saya tidak sesuai
dengan kenyataan yang terjadi. Teknik lingkungan bisa terbilang rumit, tidak
berbicara soal lingkungannya namun berbicara tentang tekniknya. Dimanapun itu
program studi yang awal kata diawali dengan kata teknik pasti akan rumit. Kerumitan
ini yang belum bisa saya terima. Saya temukan mata kuliah (matematika, fisika, kimia,
biologi) secara merata dengan istilah berbeda dalam dunia keteknikan. Saya berpikir
bahwa kuliah itu baha ajarnya akan lebih fokus, ternyata tidak demikian, semua aspek
juga harus dipelajari. Ditambah lagi dengan tugas-tugas perencanaan yang harus
bisa dikuasai oleh anak Teknik. Namun saya belum mampu menguasainya sampai saat
ini.
Saya sempat berpikir bahwa saya
tidak cocok di Teknik Lingkungan. Rasa/chemistry saya terhadap program studi
ini kurang. Namun bagaimanapun saya sudah menerjuninya dan saya harus tetap
berjuang disini, meskipun dengan segala keterbatasan saya yang ada. Kembali ke beberapa
alasan, apa saja sebenarnya yang membuat saya akhirnya mengambil program studi
ini, antara lain:
1. 1. Kakak kelas SMA, panggil saja Mas Sudib sukses
di TL
Saya melihat kakak kelas saya yang mengambil program studi
ini di kampus sebelah dan dia sukses berada di program studi ini. Saya dulu
sempat keras kepala, saya pasti bisa seperti Mas Sudib. Saya pasti bisa
berprestasi di sini. Saya berusaha meyakinkan mas saya yang juga adik kelas
dari Mas Sudib bahwa saya benar-benar bisa. Kembali lagi ke realita, bahwa saya
dan Mas Sudib seperti bumi dan langit. Mas Sudib memang seseorang yang
benar-benar berprestasi ketika sekolah maupun kuliah. Kali ini saya terlalu
berlebihan karena keras kepalanya saya untuk bisa seperti Mas Sudib. Kenyataan
yang dijalani sekarang, saya belum bisa apa-apa. Tetap, saya harus terus
berjuang sampai selesai meskipun belum berprestasi.
2. 2. Saya punya visi misi untuk lingkungan
Saya menyadari bahwa lingkungan ini semakin terancam
keberadaannya. Tidak bisa dipungkiri lingkungan semakin mengalami kerusakan dan
kitalah yang mampu memperbaikinya meskipun tidak sepenuhnya dapat
menyembuhkannya dari berbagai macam pencemaran yang masuk di lingkungan. Ini
tugas berat dan besar bagi seorang enviromentalist.
3. 3. Saya mengambil program studi yang “mungkin” mudah
Seperti yang telah saya bilang diatas, ternyata TL itu
tidak mudah. Kali ini saya salah berspekulasi. Namun saya harus mampu berjuang
disini. Berjuang itu mudah namun mempertahankannya adalah kesulitan tersendiri.
Namun saya tidak akan menyerah menghadapi kesulitan ini.
Mungkin dulu alasan saya seperti diatas untuk memberanikan mengambil TL,
bagaimana pun ketika saya terjun di dunia tersebut, maka itu adalah jodoh saya.
Meskipun TL sulit dijalani, saya percaya bahwa saya mempunyai peran besar untuk
lingkungan ini. Ilmu yang saya dapatkan di bangku perkuliahan ini nantinya bisa
bermanfaat untuk diri saya dan lingkungan di sekitar saya. Saya berharap
demikian, biarkan saya saat ini bingung dengan peran apa yang saya ambil ke
depan. Namun pasti, cepat atau lambat saya akan berperan dan mengaplikasikan
ilmu saya di bangku perkuliahan ini secara benar dan memberikan manfaat untuk
sekeliling saya.
Perhatikan lagi penggunaan "di" sebagai kata depan atau imbuhan itu berbeda. Pelajari kembali PUEBI.
BalasHapusPenomoran juga itu dobel, bisa lebih teliti lagi ya!